Beranda BERITA UTAMA HTI, TKN, Marati, Yusril “Musuh dalam Selimut”?

HTI, TKN, Marati, Yusril “Musuh dalam Selimut”?

712
0

JAKARTA | lambenews.com – Apa yang kamu cari Yusril Ihza Mahendra? Mungkin pertanyaan yang pas ditanyakan kepada Rika Tolentino Kato tersebut.

Setelah menjadi pembela organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ketua Umum Partai Bulan Bintang ini merapat ke kubu Jokowi dan menjadi Penasehat hukum Tim Kampanye Nasional (TKN).

Setelah selesai menghadapi gugatan kubu Prabowo Subianto di MK, tiba-tiba Yusril menjadi pengacara Habil Marati tersangka makar.

Sekali lagi. Apa yang kau cari Yusril? Uang, popularitas atau jabatan.

“Dengan membela Habil Marati jelas Yusril cari duit. Dengan kekayaan lebih 350 miliar rupiah, kecil bagi Habil Marati membayar Yusril 10 miliar rupiah,” kata seorang pengacara ternama di Jakarta yang enggan ditulis namanya.

Menurutnya, keputusan Yusril menjadi pengacara Habil Maranti dapat dikualifisir melanggar etika profesi.

“Sebab, sebagai pengacara yang mewakili kepentingan negara/penguasa/presiden scr etik YIM tidak boleh lagi menjadi pengacara musuh negara, yang sedang ditahan saat ini. Fakta ini menunjukan YIM meskipun dikenal tokoh Islam tapi ternyata menganut ideologi pragmatisme,” kata pengacara tadi.

Yang membuat kubu Jokowi harus hati-hati, Habil Marati yang dibela Yusril adalah musuh negara. “Sedangkan Yusril memegang berbagai rahasia TKN. Jangan -jangan Yusril ini musuh dalam selimut,” kata pengacara tadi.

Yusril Ihza Mahendra bersedia menjadi pengacara pasangan calon Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin. Padahal Yusril pernah menjadi pengacara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebelumnya.

Meski saat membela HTI posisinya berseberangan dengan pemerintah, Yusril menjelaskan itu tidak jadi masalah.

“Tidak jadi masalah. Dalam perkara HTI, yang kami gugat adalah Menkum HAM, bukan Presiden RI (Jokowi -red),” kata Yusril kepada detikcom, Senin (5/11/2018).

HTI menggandeng pengacara kondang itu untuk menghadapi upaya pembubaran. Pada jumpa pers di 88 Kasablanka Office Tower, Tebet, Jakarta Selatan, pada 23 Mei 2017, juru bicara HTI Ismail Yusanto menyatakan Tim Pembela HTI (TP-HTI) di bawah koordinasi Yusril Ihza Mahendra. Disebutnya saat itu, ada 1.000 advokat pembela HTI.

Saat itu pemerintah sedang berencana mengumumkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas). Perppu Ormas akhirnya terbit, yakni Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Ormas. Lewat perppu itu, pemerintah membubarkan HTI karena organisasi itu dianggap ingin mengubah Pancasila.

Yusril menggugat Perppu itu ke MK pada 18 Juli 2017. Tapi MK mementahkan gugatan Perppu Ormas yang diajukan sejumlah pemohon. Pihak Yusril mengajukan kasasi perkara HTI itu ke Mahkamah Agung (MA) RI pada 19 Oktober 2018. Dan di MA Yusril kalah.

TKN

Sebelumnya, mantan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia itu menyatakan kesediaannya menjadi pengacara Jokowi-Ma’ruf. Awalnya, Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Amin, Erick Thohir, menanyakan kepada Yusril soal kesediaannya menjadi pengacara Jokowi-Ma’ruf.

“Saya memutuskan setuju dan menjadi lawyer-nya kedua beliau itu,” kata Yusril dalam keterangannya.

Jadi Pengacara Habil Marati

Yusril Ihza Mahendra mengungkapkan alasannya menjadi pengacara tersangka penyandang dana dalam kasus dugaan rencana pembunuhan terhadap empat pejabat tinggi negara, Habil Marati (HM).

Yusril mengatakan, Habil telah memintanya untuk menangani kasus yang dihadapinya. Lalu, Yusril menerima dan ingin mempelajari kasus tersebut.

“Jadi memang dia menghubungi saya, minta tolong membantu menangani kasus yang di hadapi. Saya bilang ‘Saya mau mempelajari dulu bahan-bahannya’. Untuk kasus ini mudah-mudahan ada titik terang untuk menyelesaikan persoalan ini dengan baik,” kata Yusril saat dihubungi wartawan, Kamis (11/7/2019).

Yusril mengatakan, Habil Marati sudah diperiksa beberapa kali oleh pihak kepolisian. Namun, sampai hari ini kasus tersebut belum dilimpahkan ke pengadilan.

“Proses penyidikan sudah dilakukan polisi sedang berjalan dan Pak Habil itu sudah diperiksa beberapa kali, tetapi sampai sekarang perkaranya masih ada di polisi belum dilimpahkan ke kejaksaan,” ujar dia.

Yusril juga mengatakan bahwa ini bukan pertama kali dia menjadi pengacara kasus makar seperti yang dihadapi Habil Marati.

Sebelumnya, Yusril pernah menjadi pengacara kasus makar pada 2016 yang menyeret nama putri Presiden RI pertama Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri; tokoh pergerakan Sri Bintang Pamungkas; aktivis Ratna Sarumpaet; mantan Kepala Staf Kostrad Kivlan Zen; dan Adityawarman Taha.

“Pertama kali saya juga yang menangani yang waktu Rachmawati Soekarnoputri pada waktu itu, ada Ratna sarumpaet juga, termasuk Pak Kivlan juga, Adityamarwan. Pada waktu itu saya juga diminta menangani,” ujar dia.

Yusril Ihza Mahendra mendatangi Polda Metro Jaya untuk menemui tersangka penyandang dana dalam kasus dugaan rencana pembunuhan terhadap empat pejabat tinggi negara, Habil Marati (HM), Rabu (11/7/2019).

Ia mengaku telah ditunjuk sebagai kuasa hukum Habil dan akan berkoordinasi dengan penyidik Polda Metro Jaya guna mengetahui alasan penyidik menetapkan Habil sebagai tersangka.

Yusril pun menjamin kasus yang menjerat Habil Marati akan diproses sesuai aturan hukum yang berlaku.

“Yusril Ihza Mahendra itu pengkhianat jadi Presiden Jokowi harus berhati-hati. Yusril itu seorang kutu loncat dan punya agenda terselubung. Dia musuh dalam selimut,” kata seorang relawan Jokowi.

Kiva Mahendata

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here